PELALAWAN _ (Bentengmelayu.com) Kontradiksi tajam sedang terjadi di jantung industri energi Kabupaten Pelalawan. Di tengah gemerlap angka produksi gas PT Energi Mega Persada (EMP) yang terus meroket, terdapat realitas pahit yang harus ditelan masyarakat: infrastruktur jalan yang hancur lebur di jalur strategis Langgam-Lubuk Ogung.
?Produksi Melimpah, Infrastruktur Parah ?Berdasarkan data terkini, EMP melalui anak usahanya telah berhasil menyentuh angka produksi gas sebesar 83 MMSCFD (juta kaki kubik per hari). Perusahaan bahkan tengah membidik target ambisius untuk menggenjot produksi hingga 120 MMSCFD. Pencapaian ini menempatkan EMP sebagai salah satu pemain kunci dalam pemenuhan kebutuhan gas industri di wilayah Sumatera.
?Namun, kejayaan di sisi produksi ini berbanding terbalik dengan kondisi Jalan Langgam-Lubuk Ogung. Jalur yang menjadi akses utama operasional perusahaan tersebut kini dilaporkan dalam kondisi hancur total. Lubang-lubang besar, jalan yang bergelombang, hingga kubangan lumpur saat musim hujan menjadi pemandangan sehari-hari yang menyulitkan mobilitas warga dan logistik perusahaan itu sendiri.
?Peringatan Keras: "Bom Waktu" Bagi EMP
?Kondisi ini memicu reaksi keras dari kalangan aktivis pemuda setempat. Mereka menilai ketimpangan antara kekayaan sumber daya alam yang dikeruk dengan kualitas infrastruktur adalah bentuk pengabaian terhadap tanggung jawab sosial lingkungan.
?"Ini adalah ironi yang menyakitkan. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan yang memproduksi gas hingga ratusan juta kaki kubik setiap harinya membiarkan akses utama di wilayah operasionalnya hancur seperti medan perang?" ujar Rendi Wiranata Aktivis Pemuda Riau dalam keterangannya.
?Lebih lanjut, ia memberikan peringatan keras bahwa ketidakpuasan masyarakat yang menumpuk akibat kerusakan jalan ini dapat meledak sewaktu-waktu.
?"Jika tidak segera ada perbaikan nyata, kondisi ini akan menjadi 'bom waktu' bagi EMP. Gesekan sosial dengan masyarakat lokal tidak akan bisa dihindari. Jangan sampai masyarakat yang turun tangan melakukan aksi blokade karena merasa hanya mendapatkan debu dan jalan rusak, sementara gasnya dibawa pergi untuk keuntungan besar," tegasnya.
?Tuntutan Sinergi dan Perbaikan
?Para pemuda mendesak agar EMP tidak hanya fokus pada pencapaian angka-angka produksi (MMSCFD), tetapi juga serius dalam merealisasikan komitmen Corporate Social Responsibility (CSR) dalam bentuk perbaikan infrastruktur jalan secara permanen.
?Sinergi antara pemerintah daerah dan SKK Migas juga dipertanyakan, mengingat jalan Langgam-Lubuk Ogung adalah urat nadi ekonomi yang seharusnya mendapatkan prioritas pemeliharaan dari hasil bagi hasil migas maupun kontribusi langsung perusahaan.
?Hingga saat ini, kondisi jalan masih terpantau memprihatinkan, dan masyarakat menunggu langkah konkret sebelum "bom waktu" sosial yang diperingatkan para aktivis benar-benar terjadi.